Sastra yang Memprihantinkan

Yayan Dei Legung*)

Belakangan ini, penulis yang bergiat dalam ruang lingkup sastra “Sastrawan” semakin menampakkan batang hidungnya di setiap acara-acara sastra yang diadakan komunitas-komunitas tertentu. Kedatangan mereka dalam acara itu tidak lain adalah menyambung silaturrahmi antara sastrawan satu dengan yang lain. Selain itu juga, sebuah perkumpulan yang seluruhnya sastrawan dan penikmat sastra merupakan khasanah dalam menjalin kemesrahan–sebut saja mesra dalam kemelaratan.

Berbicara tentang kemelaratan, saya teringat pada suatu malam ketika saya duduk menikmati kopi di sebuah kedai kopi. Salah satu sastrawan kondang –barangkali tak begitu penting saya sebut namanya –menyatakan keluh kesahnya kepada saya tentang jerih payah karyanya yang dimuat di beberapa koran nasional maupun lokal. Dia merasa honor yang diterima tidak sebanding dengan jerih payahnya dalam menghasilkan karya. Dia merasa akan selalu dirundung kemelaratan bila kesastrawanannya masih dilanjutkan.

Awalnya saya menyimak bicaranya yang kalang-kabut itu dengan perasaan tenang layaknya seorang teman. Tetapi kenapa kemudian datangnya cerita itu seolah memprihatinkan?
http://cdn-2.tstatic.net/pekanbaru/foto/bank/images/ilustrasi-buku_20150817_193659.jpg

Terlepas dari adegan cerita di atas, bagi penggiat sastra, sastra memang sangatlah penting untuk dihadirkan di kalangan halayak umum. Seperti yang telah dilakukan oleh penerbit-penerbit sastra yang setiap kali meluncurkan bacaan buku sastra terbaru. Tak terkecuali juga redaktur koran maupun majalah juga ikut andil dalam menerbitkan kumpulan karya yang dimuat dalam majalan dan koran tersebut. Sehingga buku-buku sastra sampai saat ini berlimpah ruah di segala tempat dan mudah didapatkan. Hal ini menjadi terobosan baru untuk menyadarkan kepada masyarakat perihal pentingnya peran sastra dalam kehidupan untuk dijadikan bahan bacaan.

Sastra dan Budaya Membaca

Di era teknologi dan informasi yang semakin pesat, tantangan seorang penggiat sastra adalah bagaimana mereka tidak terlena dalam hingar-bingarnya era tersebut. Kita tahu, tentu, televisi saat ini menjadi sekelumit ancaman dalam kehidupan masyarakat. Hal ini  dibuktikan dengan siaran-siaran yang dihadirkan ke khalayak umum tidak dipikirkan secara matang –sebut saja siaran-siaran yang dihadirkan dari setiap stasiun televisi bisa dikatakan sangatlah tidak mendidik, bahkan membutakan mata hati penonton.

Sastra yang sering kali kita dengar sebagai sarana memanusiakan manusia, sepatutnya mampu membendung persoalan yang dianggap biasa-biasa saja, tetapi besar dampaknya. Nah, dunia sastra yang digeluti oleh sastrawan bukanlah dunia yang bergelut dalam persoalan keindahan kata dan memburu bayang-bayang materi untuk dimuat di koran maupun majalah atau merebut kedudukan yang terpandang di kalangan sastrawan lainnya. Tetapi, yang terpenting adalah bagaiman sastrawan mampu berperan aktif dalam menghadapi sebuah persoalan hidup serta mampu memecahkan persoalan itu dengan karya-karyanya. Sebagaimana ungkapan WS. Rendra dalam “Sajak Sebatang Lisong”: ...kita harus berhenti membeli rumus-rumus asing/ diktat-diktat hanya boleh memberi metode/ tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan/ kita mesti keluar ke jalan raya/ ke luar ke desa-desa/ mencatat sendiri semua gejala/ dan menghayati persoalan yang nyata....

Di sini, WS. Rendra ingin membangunkan para sastrawan yang masih asyik dengan kata-kata yang memabukkan itu, supaya sadar akan keadaan yang semakin kacau. Beliau juga menegaskan bahwa menjadi seorang sastrawan tidak hanya terus menerus terkurung dalam bahasan tentang anggur dan rembulan. Karena masih banyak persoalan-persoalan yang mesti dibahas oleh sastrawan dalam kehidupan yang lebih nyata, di mana mereka mampu menyambung lidah masyarakat melalui karya-karya yang dihasilkan.

Apa lagi saat ini, para sastrawan berlomba-lomba dalam menerbitkan buku untuk diikutkan pada sebuah lomba bergengsi. Bahkan ada di antara sebagian kecil dari mereka beranggapan bahwa capaian seorang sastawan dipandang dari berapa banyak buku yang mereka terbitkan. Sehingga sampai saat ini, banyak sastrawan-sastrawan muncul dengan bukunya tetapi tidak memberikan dampak yang segnifikan. Benar kata WS. Rendra –mungkin ini juga terjadi pada sastrawan saat ini, mungkin juga tidak –bahwa mereka adalah “penyair salon” yang tidak pernah keluar dari keindahan semata.

Kemudian, di tengah banyaknya buku-buku karya sastra yang sudah diterbitkan dan terpajang di segala toko buku, hal yang perlu diperhatikan adalah minimnya minat baca buku sastra. Fenomena ini merupakan persoalan yang perlu disiasati. Apakah masalah itu memang bersumber dari individu atau karena memang karya sastra itu sulit dipahami. Tetapi, apabila minimnya membaca sastra dilatar belakangi akan sulitnya memahami sastra itu sendiri, maka saya teringat percakapan saya dengan teman di sebuah kedai kopi tadi. Dia berkata “bahwa karya sastra yang bagus adalah karya sastra yang sulit dipahami, namun yang bisa memahaminya adalah kritikus sastra dan penggiat sastra.” Mendengar teman berkata seperti itu saya berkata –sungguh sastra menjadi bacaan yang menakutkan sebab sulit dipahami –dalam hati.


Akhirnya, sebagai penutup tulisan ini, saya ingin berusul. Jika sastra ditulis hanya sebatas keindahan kata,  jika sastra ditulis hanya membutakan pembaca untu memahaminya, jika sastra ditulis untuk sulit dimengerti sehingga sastrawan tersenyum geli sebab karyanya dinilai mengandung makna tinggi. Maka hayati bersama perkataan WS. Rendra dalam akhir sajaknya “...apakah artinya kesenia, bila terpisah dari derita lingkungan/apalah artinya berpikir, bila terpisah dari masalah kehidupan.”

ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
=(
^_^
:D
=D
=)D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p
:ng
:lv
Thanks for your comment