Luthfi G‘Afif
Perjalanan
hidup manusia di dalam ruang yang bernama semesta membuat manusia berfikir
dengan kondisi disekelilingnya, karena hanya manusialah yang mampu untuk
berfikir. Dari hasil kontak fikiran dengan semesta muncul berbagai macam kreasi,
salah satunya adalah agama. Karena pada dasarnya manusia membutuhkan cahaya
transenden untuk menerangi perjalanan kehidupan. Kemunculan agama sesuai dengan
porsi kebutuhan zamannya, dalam Islam porsi yang di butuhkan adalah pembersihan
tuhan-tuhan lama, ibadah diperjual belikan, aturan dagang, pembebesan budak dan
lain-lain. Pada dasarnya agama adalah kenyataan sosial, karena agama tidak
tampil pada suatu hakikat yang sama pada semua masa dan tempat, akan tetapi
sebagai bentuk kebudayaan yang selalu bertransformasi dalam berbagai periode
sejarah. Zaman pertama kali agama muncul dalam pentas sosial, agama milik orang
yang termarginalkan, lalu setelah kemenangan agama lewat bukti banyak yang menyerahkan
diri padanya, akhirnya agama dijalin oleh kerajaan dan diserap ke dalam masyarakat.
Perjalanan
gelombang sejarah tersebut tak luput juga dari perselisihan atau pertentang
yang secara simbolik mengatasnamakan agama. Pertentangan yang terjadi dalam
panggung sejarah memberikan gambaran kekuatan klas. Seperti contoh khowarij,
muktazilah merupakan kelompok oposisi dari penguasa. Terlepas dari semua itu
semua termasuk pada pertarungan mewakili kepentingan ataukah murni karena ingin
memurnikan ajaran Tuhan? Jalinan yang di buat oleh orang/kelompok yang menang
itulah ajaran yang di yakini benar oleh masyarakat tanpa melihat atau menilai
esensi yang terkandung didalamnya. Akhirnya penilaian terhadap agama hanyalah sebatas persekongkolan para pendeta
saja untuk melanggengkan kepentingan klasnya dengan menawarkan ramuan kesabaran
terhadap masarakat untuk tetap sabar menghadapi ujian hidup. Karena barang
siapa yang sabar di akhirat nanti akan diberikan surga yang indah.
Dari konsolidasi antara agama dengan penguasa itulah
sehingga memunculkan kritakan bahwa agama itu candu atau opium yang membuat
manusia terbuai dan melupakan keluh kesah kehidupan yang nyata. Sehingga agama
hanya terkesan sebagai tumpukan ritual tanpa misi yang kongkrit, hanyalah
tulisan-tulisan suci yang tidak semua
orang boleh memgang.
Namun pada perkembangannya agama pun berubah
menjadi alat perjuangan dalam melakukan pembebasan. Seperti yang terjadi di Amerika
Latin, tahun 1960-an, terjadi proses radikalisasi yang berkembang dikalangan orang-orang
kristen. Fenomena yang menjadi sorotan saat itu adalah gerakan yang dipimpin
oleh Romo Camillo Torres, dengan mengorganisir suatu gerakan rakyat yang
militan. Kemudian disusul dengan terbentuknya organisasi Romo-Romo untuk Dunia
ketiga. Mereka menafsirkan ulang kitab sucinya sesuai dengan praktek-praktek
kehidupan nyata mereka sebagai panduan aksi-aksi pembebasan. Setting latar dari
kemunculan ini dipicu oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal;
setelah Perang Dunia II muncul pemahaman-pemahaman baru terhadap agama serta
lebih terbuka untuk mengkaji ilmu sosial modern. Faktor eksternal;
keterbelakangan, kemiskinan mewabah sebagai akibat dari industrialisasi yang dimotori
oleh modal Modal Multinasional, pada tahun 1959. Revolusi Kuba meletus sebagai
tanda babak baru dalam sejarah Amerika Latin yang di tandai oleh semakin
meningkatnya perjuangan sosial.
![]() |
Dalam
dunia Islam kita akan bertemu dengan Asgar Ali Enginer, dia memandang agama itu
muncul untuk menghilangkan praktik penghisapan yang dilakukan oleh kaum Qurais.
Jual beli manusia atau praktik perbudakan juga masih menjadi tradisi. Meminjam istilah
Gramisi- muncullah intelektual yang tumbuh dari kelompok organiknya, yang akan
memberi dorongan perubahan- Sedang di India muncullah Asgar sebagai konseptor
melawan Pimpinan Bohras. Kondisi di India banyak orang miskin, terlantar, orang
yang tak tentu nasibnya, pada masa pasca-kemerdekaan India terjadi banyak
kerusuhan.
Setting
teologi pembebasan Asghar lebih menekankan aspek praksis, dalam artian lebih
menuntut kebebasan akan otonomi manusia yang mempunyai komunikasi secara
dialektis terhadap kondisinya dan kondisi disekitarnya. Dasar itu digunakan
sebagai pijakan praksis. Pandangan Asghar dianggap mengancam segala bentuk
kemapanan yang mengeksploitasi kaum lemah.
Pembebasan
teologi dilakukan untuk membangun teologi pembebasan, karena teologi yang ada
cenderung ke arah filosofis-metafisik yang ambigu dan abstrak yang menyebabkan
aktifitas keagamaan mengalami kemandekan. Karena hanya bersifal ritualistik
semu, dogmatis yang membingungkan. Sehingga bagi Asghar agama seperti itu
dikatakan mistik dan hanya untuk menghipnotis masyarakat.
Agama
tidak boleh berhenti pada urusan akhirat ataupun duniawi saja, tetapi harus
dapat menjaga relevansinya. Sehingga agama menjadi hal dinamis. Bagi Asgar agama
harus menjadi sumber motivasi bagi kaum tertindas untuk mengubah keadaan mereka
dan menjadi kekuatan spiritual untuk mengkomunikasikan dirinya secara
signifikan. Dengan memahami berbagai aspek spiritual yang lebih tinggi dari
realitas ini, disamping mengakui konsep metafisika tentang takdir dalam rentang
sejarah umat Islam, juga konsep bahwa manusia itu bebas nilai, konsep ini
dipandang sebagai tawar menawar antara kebebasan manusia dan takdir (tidak
baku).
Dalam
kondisi saat ini di Indonesia, di mana suasana pemikiran
dan praktik pembebasan terasa sayup bahkan beku, sehingga praktik-praktik
penghisapan, penindasan, masyarakat tercerabut dari hak miliknya, apalagi
fenomena agama yang sudah menjadi komoditi atau jajanan pasar, dari itu perlu
kita kembali kaji bersama tentang teologi pembebsan. Tentunya dengan evaluasi
kritis dan menyesuaikan dengan gejala-gejala yang terjadi. Pemahaman-pemahaman
yang sudah mapan harus kembali digugat dan diberi pandangan value agar
kebekuan yang terjadi mampu di cairkan.
ConversionConversion EmoticonEmoticon