Api Genturu

Kamil Dayasawa *)

Kudengar ia telah melupakan namanya. Nama teman-teman serta orang yang pernah dikenalnya. Semuanya. Kehidupan baru telah merenggutnya dari tanganku—tangan kami semua.

***

Bola cahaya bangkit dari timur. Tepat ketika aku duduk di atas kursi kayu halaman rumah. Beberapa detik saja tertangkap mata. Kemudian hilang kembali. Lalu seketika kurasakan aliran darahku lebih deras bekerja. Bulu-bulu kulitku merinding disepuh angin. Malam tua. Dari ladang gelap, terdengan bunyi burung hantu.

Kutaksir jarak bangkit bola cahaya itu, tidak lebih satu kilo meter dari rumahku. Sebuah hamparan sawah membentang ditumbuhi padi. Orang-orang kampung menyebutnya Mongging.

Di tengahnya, terdapat sebuah ladang yang hanya ditumbuhi pepohonan kelapa dan siwalan. Dari jauh, tampak tetumbuhan itu membentuk lingkaran besar—kami menamainya Bersa.

Tepat di sana, berdiri sebuah gubuk yang terbuat dari kayu jati. Hanya satu. Terasing dan kesepian. Seorang perempuan tua penunggu gubuk itu bernama Nyai Sarbinatun. Ditemani anak lelakinya yang masih muda, Mosaut.

Mereka berdua hidup miskin. Sanak saudaranya tak ada yang memperhatikan. Begitu juga orang-orang kampung. Konon, kemiskinan itulah penyebab ia memilih tinggal di tempat yang jauh dari keramaian. Nyai Sarbinatun tidak ingin menjadi cela di antara orang-orang kampung yang hidup mewah. “Cukup berteman dengan alam yang ramah.” Begitulah cerita yang kudengar dari seorang sepuh yang tinggal di samping rumahku.
***

Di pagi hari, waktu bagi petani untuk bergegas ke sawah. Mengusir burung-burung ketti’1 yang hinggap di tanaman padi. Sebagian ada yang mengusirnya dengan berteriak lantang sambil menarik-narik senar yang tersambung dengan orang-orangan yang terpancang di tengah-tengah padi. Ada juga yang lebih sederhana, menggunakan ketapel.

www.sarilah.biz
Tapi pagi ini tidak seperti hari biasanya. Orang-orang kampung bergegas setengah berlari melewati jalan kecil samping rumahku. Mereka tidak membawa ketapel, cangkul atau sabit. Baju yang mereka pakai pun merupakan baju yang biasa dipakai untuk sembahyang. Berangsur-angsur kulihat penuh khidmat. Ada yang bergerombol tiga orang, lima, bahka tujuh. Aku tercenung dengan perubahan ini.

“Nyai Sarbinatun meninggal,” kata Nom Nawi.

Aku terkesiap beberapa saat. Ingatanku tentang bola cahaya tadi malam bergelayut menghampiriku. “Ternyata, tadi malam itu genturu,2” desisku dalam hati. Oh, Tuhan pemilik segala alam. Betapa tak berdaya manusia bila menghadapi kehendakMu.

Aku pun ikut bergegas menuju gubuk kayu terasing di tanah Bersa itu.

***

Pemakaman pun selesai. Seketika pula kesedihan di wajah pengiring jenazah jadi surut. Hilang beringsut menjauh. Hanya Saut yang masih setia bersimpuh di kuburan ibunya. Tetes air matanya pun tak sanggup dihitung berapa jumlahnya. Kini tinggallah ia sendiri. Hidup bagai seonggok batu ladang.

Seperti biasa, mereka bergegas menuju rumah duka. Terlihat senyum-senyum tipis dilemparka antara satu dan lainnya. Ada yang mengatakan, saatnya untuk pesta—memang benar, sudah lumrah, rumah duka selalu menyediakan hidangan bagi pelayat. Nasi dengan lauk telur, tempe, daging sapi dan ayam sudah pasti dihaturkan selepas acara pemakaman.

Di malam hari, diselenggarakan acara permainan domino. Para bujang kampung dan orang-orang yang sudah lanjut usia, ikut nimbrung meramaikan acara ini. Sampai larut malam.

Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi keluarga duka bila yang datang setiap malam mencapai sepuluh orang atau lebih. Satu teko kopi dan teh serta hidangan makan malam, tentu tidak keberatan bagi keluarga duka untuk diberikan. Apalah arti sebuah hidangan dibanding kebahagiaan? Begitulah kira-kira yang dapat kutangkap dari wajah keluarga duka setiapkali menghadiri acara permainan domino.

Di samping acara permainan domino di malam hari yang menguras isi dapur, di kampung kami juga biasa—atau barangkali wajib—untuk mengadakan tahlilan di hari ke tiga dan hari ke tujuh. Acara ini diisi dengan acara doa bersama.

Mereka yang datang bisa mencapai ratusan orang. Tua atau muda, semuanya ikut meramaikan. Cukup berbekal hafalan salawat dan bisa mengucap ‘amin’ ketika pembacaan doa. Dan sedikit ekspresi kehilangan yang samar-samar di wajah.

Mungkin benar kata orang, betapa yang hilang dari pandangan akan senantiasa dirindukan. Sementara atau selamanya. Sepoi angin sawah bertiup kencang. Memainkan sarung dan kemeja orang-orang yang khusuk membaca doa.

Di sela kesakralan gumam orang-orang melantunkan kalimat-kalimat zikir, aku mendekat pada Saut. Menyalami tangannya yang hangat serta membisikkan sesuatu yang cukup rahasia—tentang tenda dan lampu merkuri.

“Kalau tidak begini, siapa yang akan mengenang ibu? Di kampung kita, orang akan selesai mengantar hanya sampai kuburan kalau tidak menggelar perayaan. Setelah itu, ibu akan dilupakan. Seperti angin bertiup tanpa dirasakan desirnya.” Saut tersenyum. “Dengan ini, paling tidak, selama tujuh hari orang akan terus mengingat ibu.”

Saut bergegas pergi ke dapur, meminta kopi dan ragam hidangan bagi tamunya. Karena acara doa bersama telah selesai dilaksanakan.

Sementara aku masih berdiri mematung. Memandang tenda yang berdiri kokoh lebih gagah dari gubuk Saut. Kabel terbentang dari pusat kampung untuk menyalakan lampu merkuri. Seperti terpaksa dinyalakan.

Dalam hati yang terdalam, terbesit sebuah kerisauan. Kekejaman-kekejaman kehidupan bangkit membayang di mataku. Bagaimana bisa seorang yang sedang ditinggal ibunya justru harus menanggung beban perayaan yang penuh euforia?

Aku ingin ikut merintih dan menangis, seperti Saut. Aku ingin ikut sedih dan terluka. Tapi tanganku yang terbuka tak menyimpan apa-apa.

***

Hari-hari setelah kematian ibunya, Saut lebih giat bekerja. Setiap malam ia mendatangi rumah orang-orang di kampung, adakah mereka membutuhkan tenaganya yang selalu memuaskan itu.

Terkadang, ia merasa sakit hati ketika tak seorang pun mempekerjakannya. Ia mengutuk dirinya sendiri yang bodoh. Ia mempertanyakan nasibnya lewat garis-garis tangan. “Bisakah aku mengubahnya?” tanyanya pada diri sendiri.

Suatu pagi, kulihat ia sedang mencangkul di sawah. Garis-garis wajahnya tampak menyiratkan beban kehidupan yang cukup berat. Mungkin ia berharap, dari tanah yang dicangkulnya, terdapat harta karun yang bisa menyulapnya seketika.

Matahari terik membakar kulitnya yang coklat. Angin sawah meniup rumpun ilalang. Burung-burung terbang seperti mencari lagit yang lain. Di timur jauh, sebuah bukit ingin mencium langit.

Saut terus mencangkul. Setetes-dua tetes keringat jatuh ke tanah. Sesekali bibirnya bergeming. Mungkin mengutuk maut yang telah merenggut ibunya.

Melihat pemandangan yang haru ini, aku terbayang tujuh hari perayaan kematian ibunya. Aku menyimpulkan bahwa ia telah terbebani hutang yang banyak. Entah kepada siapa. “Saut yang malang terus meradang. Akankah kelak ia bisa bangkit dari curam kehidupannya?” aku membatin.

***

Sepulang dari sawah, menjaga padi, aku dikejutkan dengan sebuah kabar. Mosaut, lelaki bertubuh tegap dan rajin bekerja itu ditangkap polisi. Ia dikepung warga setelah pemilik toko sembako di partelon,3 melihat Saut berada di dalam tokonya sekitar pukul tiga malam. Pemilik toko pun berteriak ‘maling’ sekeras-kerasnya. Warga berdatangan mengepung. Menangkap dan memukulinya.

Beruntung, ketika itu polisi cepat datang dan mengamankan Saut dari amukan mematikan warga—sebab penghakiman warga lebih kejam dari aparat. Seperti yang baru-baru ini kudengar kabar, terjadi pembakaran terhadap maling yang tertangkap warga mencuri sapi. Mengerikan bukan?!

“Sudah sering mencuri?” tanya Pak Polisi.

“Baru sekali ini, Pak.”

“Saya tidak percaya. Jujur saja lebih baik!”

“Saya sudah jujur, Pak. Baik atau tidak, sekarang berada di tangan sampeyan.” Terlihat bibirnya gemetar. Ada sisa sakit dari pukulan warga di wajahnya. Hitam lebam sedikit mengucurkan darah. Kini ia pasrah dengan semua keputusan yang dijatuhkan kepadanya.

“Mungkin di penjara lebih baik. Tidak akan ada yang menagih utang,” ia mencoba menghibur diri.

“Apa saya dimasukkan penjara, Pak?” tanya Saut.

“Belum tentu, bisa saja langsung digantung,” jawab Pak Polisi setengah bergurau.

“Masukkan penjara saja, Pak. Saya rela. Sungguh saya ikhlas. Di penjara dikasih makan bukan?” Pikirnya, tinggal di penjara akan membuatnya lebih tenang. Bisa mendapat makan tanpa harus bekerja. “Beruntung belum beristri,” ia membatin.

“Kenapa kamu meminta masuk penjara?” tanya Pak Polisi menanggapi permohonan Saut.

“Bukankah di penjara, negara menjamin kelangsungan hidup saya? Saya sudah gugup hidup di luar sana, Pak. Utang saya banyak setelah kematian ibu. Saya malu ditagih terus. Kalau di penjara, saya kan aman?”

Sejak itulah ia terus mendekam di balik jeruji besi. Sudah sekian tahun ia berada di dalam sana. Entah, apakah ia tidak merindukan matahari terbit dari balik Gunung Pikul sebelah timur gubuknya. Berkali-kali ia dipaksa untuk keluar dari jeruji besi itu, karena waktu penahanannya sudah habis. Tapi, Saut merasa nyaman di rumah baru itu. Ia tidak ingin keluar dari sana.

Suatu ketika seorang polisi menanyakan sebab ia tak mau dikeluarkan dari penjara. Tapi, ia tidak menjawab pertanyaan itu. Mulutnya terkunci. Sorot matanya menampakkan keluguan layaknya seorang bocah merindukan pelukan ibu. Berkali-kali ia diajak bicara, tapi tak sepatah kata pun muncul dari mulutnya.

Akhirnya diketahui, ia telah lupa mengucap kata-kata. Ia telah lupa pada namanya dan nama orang-orang yang pernah dikenalnya. Sampai kapan? Barangkali ia akan terus lupa hingga api genturu bangkit dari rumah tahanan tempatnya mendekam. Membakar tubuh gempal seorang lelaki dalam jeruji besi yang kehilangan harapan.

(Kotagede, Maret-April 2013)

[1] burung pipit.
[2] serupa bola cahaya yang dipercaya sebagai isyarat kematian bagi salah seorang yang diam di
     rumah tempat genturu bangkit.
[3] sebuah persimpangan yang memotong jalan utama.

ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
=(
^_^
:D
=D
=)D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p
:ng
:lv
Thanks for your comment