Kupu-Kupu Ibu

Kamil Dayasawa*)

Selesai menebar asap kemenyan di sekeliling rumah, ibu duduk terpaku di beranda. Matanya memandang kosong ke arah matahari tenggelam. Tebaran merah mega, tipis seperti gaun pemberian ayah di hari pernikahannya. Beberapa burung terbang melintas menuju sarang, memberikan panorama sunyi yang dalam.

Sesekali bibir ibu bergeming seraya melafalkan sesuatu, tak kedengaran. Aku mengira ia sedang membaca ayat-ayat suci untuk mendoakan leluhur yang telah lebih dulu berpulang ke alam baka. Di antara mereka, mungkin nama ayah paling sering disebutkan. Karena aku tahu, cinta ibu kepada ayah tidak bisa diungkapkan, tapi cukup mampu meredam segala keinginan untuk berpaling kepada orang lain.

Sudah sepuluh tahun ayah wafat, ibu tidak pernah berniat mencarikan ayah baru untukku. “Terlalu sulit melupakan ayahmu,” ucapnya suatu ketika. Memang, ayah di mata ibu merupakan sosok yang istimewa. Meski tidak kaya tapi kesetiaannya menjadi petani serta kesanggupannya membuat ibu aman di sisinya, telah meluluhkan hati ibu sepenuhnya.

Setelah bercak merah di ufuk barat sirna, tidak terlihat tanda-tanda ibu akan menyudahi ritualnya. Ia tetap duduk menghadap ke barat. Hanyut dalam lamunan panjang. Seekor kupu-kupu terbang dari halaman. Ketika sampai di bawah lampu penerang, warna sepasang sayapnya membara. Kombinasi warna putih dengan bintik-bintik hitam dan sedikit goresan warna merah di bagian atasnya. Tubuhnya sebesar jari kelingking tampak serasi dengan sepasang sayapnya yang lebar. Kupu-kupu itu berputar mengelilingi beranda terbuka kemudian hinggap di dinding.

Ibu sadar akan kehadiran salah satu jenis makhluk mungil dan indah itu. Ia berdiri. Bunyi keriap kursi kayu terdengar pelan, usianya memang sudah di ambang kerapuhan. Sepasang mata ibu menyala memandang satu titik di dinding. Tercenung!

“Segera pakai sarung, Nak. Kita kedatangan tamu,” suara pertama ibu menukik kesunyian maghrib.

“Cuma kupu-kupu, Bu,” sahutku mencoba menyadarkannya dari lamunan.

Ibu diam. Matanya nyalang menatap ke arahku.

“Baiklah.”

Aku bergegas ke dalam rumah dan berganti pakaian. Dari luar, kudengar ibu sedang berbicara dengan seseorang. Tapi dengan siapa? Aku penasaran. Tidak lazim di kampung kami orang-orang mengobrol saat matahari baru saja surup. Apalagi sekarang malam jumat.

Setelah mengenakan sarung, aku tidak langsung ke kamar mandi untuk bersuci. Dengan langkah diam-diam, aku mendekat ke dinding pembatas antara beranda dan bagian dalam rumah.

bilikml.files.wordpress.com
“Aku marah karena kau lama tidak datang,” suara ibu terdengar lirih. “Apa kau di sana sudah menemukan kekasih baru, sampai kau mulai lupa padaku dan Mursid, anak kita?”
Bulu kudukku berdiri. Suara ibu seperti menyimpan lantunan nada-nada dari kegaiban. Penasaranku bertambah, tapi sungkan rasanya bila aku menampakkan diri saat ibu sedang bicara dengan ayah.

Tapi benarkah kupu-kupu itu adalah ayahku yang sudah lama wafat dengan perut buncit dan besar—yang konon terkena sihir. Bagaimana jika kupu-kupu itu ayah orang lain yang jatuh cinta pada ibu dan ingin meminangnya?

Aku pernah mendengar cerita Ki Mahmudi tentang hewan yang biasa mengunjungi rumah-rumah di hari kamis malam. Katanya, jika seekor ular melata masuk ke dalam rumah, ia tidak akan menggigit orang yang tinggal di rumah itu. Sebab ular biasanya hanya ditugaskan untuk memberi isyarat kepada pemilik rumah tentang datangnya hari duka. Entah akan ada yang sakit, meninggal dunia atau gagal panen.

Ular seperti itu pernah kulihat seminggu sebelum ayah wafat. Ketika itu seekor ular warna kelabu dengan panjang setengah meter merayap di kolong lincak tempat tidurku. Aku yang melihat kehadiran hewan berbahaya itu berteriak memanggil ibu. Sayangnya, ibu malah memukul ular itu dengan bambu sampai mati, lalu memasukkannya dalam kakus.

“Agar tidak hidup lagi,” katanya. “Ular mati harus dimasukkan kakus atau sumur kering. Karena ia bisa hidup lagi kalau ditemukan temannya, dan ditiupkan kepadanya nyawa baru.”

Sementara kupu-kupu yang suka tidur di tangkai-tangkai bunga, biasanya membawa kabar bahagia. Tidak ada alasan bagi seseorang untuk membunuh kupu-kupu yang datang bertandang ke rumah-rumah, sebab ia berbeda dengan ular yang berbahaya. Kupu-kupu cenderung disukai anak-anak. Beberapa dari mereka bahkan menangkapnya dan meletakkannya dalam toples.

“Aku tetap setia padamu, Mas. Tapi kau, ke dalam mimpiku pun tidak pernah datang. Kupikir kau telah menemukan kebahagiaan lain di sana. Aku ikhlas jika kau sudah melupakan kenangan kebersamaan kita. Tapi tolong, ingatlah pada Mursid, anak semata wayang kita—buah hati kita berdua.” Ibu merintih menahan sakit dalam hatinya. Bersamaan dengan itu terdengar beberapa ranting patah diterpa tiupan angin kencang. Bulan tentu sudah mulai memercikkan cahayanya di timur jauh.

Bayangan wajah ibu memenuhi kepalaku. Aku tak tahu harus melakukan apa agar ibu merelakan kepergiaan ayah, atau bahkan jika mungkin, melupakannya. Urusan di dunia dan di alam ayah kini, tentu tidak bisa saling memahami. Keduanya terbentang jarak yang sangat jauh dan tak bisa dibayangkan.

***
Selesai salat, kulihat ibu sudah duduk di belakangku. Kedatangannya membuatku sedikit terkejut. Sejak tadi, tak terdengar bunyi langkah kaki yang datang mendekat. Wajahnya kuyu seperti sedang menahan duka mendalam. Tapi aku tidak ingin menanyakan apa yang baru saja ia lakukan. Aku ragu ia bisa menceritakan kisah ayah tanpa mengucurkan air mata. Dan sebagai seorang anak, tentu aku tidak akan sanggup melihat bulir-bulir air mata ibu menetes di hadapanku.

“Berdoalah, Nak, untuk ayahmu,” pintanya. Suaranya dalam menyimpan ketenangan.
Kucium punggung tangannya dan kutatap wajahnya. Ia tersenyum seraya bangga punya anak yang tumbuh dewasa. Dalam senyumnya, tersirat bayangan anak lelakinya yang sudah siap jika seandainya ingin menikah. Aku pernah mendengar cerita tentang kebahagiaan orang tua ketika anaknya sedang melangsungkan pernikahan.

Maka wajar, jika mereka yang punya uang, mengadakan pesta pernikahan sampai tujuh hari. Bukan karena menghamburkan uang, tapi itu sebuah ungkapan tak terucapkan dari orang tua kepada orang-orang bahwa kini mereka sedang bangga sekaligus bahagia karena anaknya sedang melangsungkan pernikahan. Selintas, orang kampug memang cenderung berlebihan. Tapi bagiku tidak begitu. Orang kampung malah lebih punya perhatian terhadap sesuatu yang tampak biasa-biasa saja.

 “Ibu tidak ikut mendoakan Ayah?”

“Aku cukup menyimak bacaan ayat-ayat suci itu, Nak. Di samping tidak bisa membaca, ibu juga sedang datang bulan,” jawabnya dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. “Bacalah dengan khusuk biar suaramu bagus!”

***
Hujan datang mengguyur kampung. Tetes-tetes pertama air yang turun dari langit, menyemerbak aroma khas pedesaan ketika menyentuh tanah kering tempat kami melangsungkan hidup sehari-hari. Serentak, bayangan pertama yang tersirat dalam setiap kepala orang-orang kampung adalah tanaman padi. Sungai-sungai yang mati akan hidup kembali. Mengalirkan mata air ke sawah-sawah luas tempat kami mencangkul dan meletakkan harapan hari depan.

Saat ini tahun pertama aku akan bertanam. Sawah warisan ayah yang telah lama terabaikan, harus ditanam lagi demi menuai padi esok hari. Hujan terus datang mengguyur, para tetua kampung petani pun mulai mengajak orang-orang bertanam dengan menabur biji-biji padi lebih dulu di sepetak sawahnya. 

Sementara aku sibuk bertanya ke sana-ke mari cara bertanam yang baik, ibu kini suka mengisi waktu kosongnya dengan merawat bunga-bunga yang tumbuh liar di halaman. Tidak jelas memang siapa yang telah menanam bunga-bunga itu. Daun-daunnya yang semula kering, kini tampak lebih bersahaja untuk memutikkan kembang sebagai mahkota kebanggaan.

Kisah ayah, ibu dan kupu-kupu waktu itu telah lama berlalu. Aku telah melupakannya atau mungkin memang sudah tidak ada ketertarikan lagi bagiku untuk memikirkan kekonyolan ibu. Aku tahu ibu belum sanggup melupakan ayah seutuhnya, kupikir wajar-wajar saja. Karena cinta ayah dan ibu tidak lahir dari kata-kata, tapi datang atas dasar petunjuk alam semesta.

“Ibu mau ke pasar untuk belanja kebutuhan dapur. Mungkin ada yang mau kamu pesan,” katanya sembari menghitung uang.

“Aku pesan kretek saja.”

Ibu diam, khusuk menghitung uang di tangannya. Tidak terlalu banyak, tapi ibu menghitungnya dalam tempo cukup lama. Sebabnya jelas bukan karena ibu tidak pandai menghitung, tapi karena ia menghitung sambil memikirkan alokasi pembelian paling efektif dan tepat sasaran.

“Kau sendiri siapkan kebutuhan-kebutuhan untuk bertanam minggu depan,” ucapnya disertai langkah pertama keluar dari beranda.

“Oh, ya...” ibu berpaling ke belakang. “Cangkul tidak perlu beli lagi. Punya Ayahmu masih bagus dan kuat.” Kalimat terakhirnya meluncur dari mulut ibu bersamaan dengan mimik wajah getir. Aku merasakan adanya perubahan di wajah itu.

Aku mengangguk setuju.
***
Pulang dari pasar ibu berjalan sendirian. Keranjangnya penuh dengan sayur-sayuran, lauk-pauk dan berbagai macam kebutuhan dapur. Ia berjalan melewati jalan utama yang ramai. Padahal biasanya, ibu tidak lewat jalan itu. Ia lebih senang memilih jalan sepi melintasi sawah-sawah yang bisa sampai di rumah lebih cepat.

Langkahnya pelan karena usianya menjelang uzur. Langit bermantel awan pekat. Riuh redam suara orang-orang bicara di jalanan, layaknya panggung ludruk dengan berbagai macam candaan.

“Mas...” suara ibu pelan. Langkahnya terhenti. “Kamu mati lagi, Mas?”

Saat itu keranjang dari genggaman ibu jatuh. Ibu telimpuh di tanah memandangi kupu-kupu putih dengan bintik-bintik hitam terkapar di tanah. Tak berdaya. Wajah ibu murung seketika seperti langit yang siap meneteskan air mata. Kupu-kupu itu diraihnya dengan pelan-pelan dan ditatapnya penuh keharuan. Satu, dua tetes air mata mengalir dari pelupuk matanya. Kupu-kupu malang itu digenggamnya erat-erat seraya memberikan kehangatan.

Orang-orang melintas di samping ibu tanpa memberikan sedikit perhatian. Mereka sibuk menjinjing keranjang dan memikul barang jualan dan hasil belanjanya. Tapi kemudian, mereka berkerumun mengelilingi ibu setelah mendengar pekik suara ibu memanggil nama ayah. Pipinya basah air mata, nafasnya tersengal oleh isak tangis tak tertahan.

Mereka terheran-heran dengan tingkah ibu yang aneh.

“Ada apa, Bu?” tanya salah seorang di antara mereka.

“Siapa yang kamu panggil?” ucap yang lain.

Ibu tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala. Dari bagian belakang, bisik-bisik lirih terdengar.

“Ia perempuan gila. Coba lihat di tangannya, sedang memegang kupu-kupu mati.”

“Betul. Lebih baik kita pulang saja daripada ikut-ikutan gila.”

Gerimis turun, orang-orang pergi meninggalkan ibu sendirian di tepi jalan. Ibu merasakan tetes air dingin jatuh di kulitnya. Ia tahu harus segera pulang, sebelum hujan bertambah besar. Air matanya dikeringkan dengan ujung kerudung tipisnya. Kupu-kupu di tangannya ia letakkan dalam kantong plastik. Keranjang yang isinya terserak, dipungutnya dengan cepat dan segera melangkah pulang.

Di rumah,  aku menyambut ibu dengan kebingungan. Wajahnya yang kusut menandakan sesuatu baru saja terjadi. Langkahnya tergopoh seperti dikejar sesuatu yang menakutkan.

“Cepat panggil Kiai, Nak, kita selenggarakan doa bersama untuk ayahmu,” ungkapnya begitu saja ketika sampai di beranda. Kantong plastik hitam diletakkan di atas meja. “Jangan lupa juga sesepuh kampung dan keluarga-keluarga terdekat diundang.”

Aku yang tidak mengerti maksud ibu, tidak berkata apa-apa. Aku hanya memandang heran pada apa yang ibu keluarkan dari kantong plastik hitam di atas meja. Aku tidak percaya ketika kulihat seekor kupu-kupu mati ibu elus penuh sayang.

“Ayahmu mati lagi, Nak. Untuk kedua kali. Segera pergi ke Kiai!”

“Tapi itu hanya kupu-kupu, Bu.”

Ibu diam memandangku dengan tatapan yang tajam. Sama seperti malam jumat waktu kami kehadiran tamu kupu-kupu. Sepasang mata yang mampu merobek ketenangan hatiku. Aku tak tahu kenapa ia begitu setuju pada suara hatinya, bahwa kupu-kupu di atas meja itu adalah ayahku. 

Aku hanya tahu, ia bukan orang gila seperti orang kampung katakan selama ini. Aku hanya tahu, ia ibuku dan aku anaknya. Aku mencintainya karena dalam darahku mengalir darah ibuku.

/Jogokariyan, 2014

ConversionConversion EmoticonEmoticon

:)
:(
=(
^_^
:D
=D
=)D
|o|
@@,
;)
:-bd
:-d
:p
:ng
:lv
Thanks for your comment