Klisab Sentosa*)
Peladjar STOVIA di Djakarta
Penulis pembela bangsa
Membasmi sifat pendajajah Belanda
Dengan tulisan yang sangat tadjam penanya
Membuka sejarah
djurnalistika
“Medan Prijaji”
warta hariannya
“soloeh Keadilan”
dan “Poetri Hindia”
Ada dalam pegangan
redaksinya
Penggalan syair diatas adalah penggalan dari karangan Priatman yang
memberi gambaran tentang perjuangan orang pribumi yang bersenjatakan pena dalam
melawan penjajahan yang dilakukan oleh belanda. Kreator perjuangan jalur
jurnalistik ini lahir dari golongan bangsawan, yaitu R.M Tirto Adi Soerjo (1880—1918).
Selain mahir dalam dunia jurnalistik, ia juga mahir dalam berorganisasi, ia
adalah pendiri organisasi modern pertama Sarikat Prijaji pada tahun 1906. Kemudian
ia juga mendirikan organisasi sekaligus gerakan yang ada di Solo yaitu Sarikat
Dagang Islam pada tahun 1909. Masa hidup Tirto relative singkat, akan tetapi
manis perjuangan Tirto abadi dan bermanfaat untuk pribumi. Tirto bercita-cita
mengangkat harkat dan martabat bangsanya, bangsa yang masih dianggap sebagai
setengah manusia menjadi manusia utuh yang dapat memperoleh hak-hak sebagai
manusia sejati dan tidak terjajah.
![]() |
http://penulis165.esq-news.com/2013/artikel/09/03/mata-pena.html |
Tirto adalah cucu dari R.M.T Tirtonoto, bupati Bojonegoro, yang
sebelum 1827 bernama Rajegwesi, karisedenan Rembang pada masanya. Dia adalah
bangsawan yang jenius dan sadar bahwa negerinya sedang dijajah. Kejeniusannya
membuat asisten Residen Wolff Van Wes Terrode terpikat dengannya, Tirto banyak
ditawari jabatan sebgai pegawai negeri, salah satunya ia ditawari jabatan pada
lembaga dinas pembasmian lintah darat. Namun tirto tetap dengan sikap
mandirinya dengan tegas menelok berbagai macam jabatan yang ditawarkan. Bagi dia
pegawai negeri hanyalah suatu penghormatan semu. Lebih baik berdiri dikaki
sendiri dari pada menetek pada penjajah yang telah menguras keringat dan darah
rakyat.
Sikap mandiri yang dimiliki Tirto merupakan warisan dari neneknya
yang masih keturunan pangeran Samber Nyowo. Dalam tatanan masayarakat feodal—yang
penuh hirarki, unggah-ungguh—bangsawan/priyayi dapat mengakses jabatan dengan
mudah, namun sewaktu kecil neneknya telah memberikan pondasi yang kokoh
terhadap Tirto. Neneknya selalu berpesan
padanya untuk menjadi orang yang percaya pada diri sendiri, berdiri diatas kaki
sendiri, tidak takut pada kemiskinan, tidak takut tidak berpangkat.
Tirto mengenyam pendidikan model Eropa, di masa kecil ia belajar di
Europeesche Lagere School (ELS) kemudian ia melanjutkan sekolah dokter di
STOVIA, pada waktu itu bangsawan yang melanjutkan ke sekolah STOVIA tergolong
langka, karena merka lebih memilih sekolah persiapan untuk pegawai negeri
sipil. Waktu sekolah di STOVIA ia tinggal di Betawi, yang jauh dari kultur
masyarakat feodal yang selama ini membelenggunya. Dari sinilah kemampuan
jurnalistiknya mulai tumbuh dan berkembang ia piawai dalam bidang jurnalistik
dan pandai mengarang, karangan fiksinya antara lain; Cerita Nyai Ratna, 1909,
Membeli Bini Orang, 1909, Busono, 1912. Selain itu berbagai macam pers yang ia
dirikan antara lain; Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, Poetri Hindia.
Diwaktu muda ia terpengaruh oleh Wijbrands seorang pemimpin Pres
yang piawai. Hebungan mereka relative singkat meraka berada dalam satu atab
Pemberita Betawi. Dari Wijbrands Tirto berhasi menjadi pemuda yang dapat
membuat presnya sendiri dan mampu mengelolanya dengan baik, selain itu ia juga
mendapat motivasi untuk mempelajari hukum-hukum belanda yang memiliki
keterbatasan. Dari proses inilah ia dapat mengetahui hak-hak dari masyarakat
pribumi dan batasan-batasan kekuasaan Belanda.
Pers sebagai penyuluh keadilan
Setelah dirasa cukup menimba ilmu dan pengalaman, Tirto mendirikan
persnya sendiri dengan dana dari harta benda yang ia miliki, selain itu ia juga
mendapat suntikan dana dari bupati baik dan santun dri Cianjur. Dari proses
itulah Soenda Berita berdiri pada februari 1903. Sewaktu Tirto masih menggeluti dunia tulis menulis milik asing,
sudah terlihat jelas kekritisan dan keberpihakannya. Dalam tulisannya ia pernah
membongkar skandal jabatan yang dilakukan oleh petinggi kolonial.
Setelah ia mampu mendirikan persnya sendiri ia tuangkan gagasan-gagasannya,
memadukan dagang, pers, dan memajukan bangsa. Ia mampu mengorganisasi para
petani, pedagang pinag, dan produksi desa, sehingga dapat meningkatkan pendapat
ekonomi penduduk desa. Sampai ahirnya ia mendirikan Medan Prijaji tahun 1907,dalam surat
kabar ini ada beberapa ide yang progresif. Ide-ide ini menjadi dasar dan tujuan
dari didirikannya Medan Prijaji. Tujuan-tujuannya antara lain; meberikan
informasi, menjadi penyuluh keadilan, memberikan bantuan hukum.
Dari aktivitas yang dilakukan Tirto Adi Soerjo mencerninkan kaum
priyayi/bangsawan yang rela menanggalkan kelasnya, status sosialnya yang
menurut dia “kontra produktif”, ia meninggalkan itu semua demi kemajuan
bangsanya. Selaian itu ia tidak hanya berdiri ditengah jalan melainkan disisi
kiri jalan bersama kaum pribumi yang masih dianggap sebagai setengah manusia
yang hidupnya hanya bertugas memeras keringatnya sendiri. Dengan pena ia
memimpin perjuangan bangsa untuk dapat menentukan nasibnya sendiri. Walaupun pada
ujungnya pengasingan di lampung, dan itu adalah resiko yang ia dapatkan dari
perjuangan yang ia lakukan dengan sadar. Perjuangan untuk mengangkat harkat dan
martabat bangsanya.
ConversionConversion EmoticonEmoticon